From Campaigns to Ballots: Democracy Education for Grade 5 Primary GIS 3 Jogja

Yogyakarta – Menjadi warga negara yang baik harus dibentuk sejak dini. Inilah yang dilakukan oleh Primary Global Islamic School 3 Yogyakarta (GIS 3 Jogja) melalui program Pendidikan Demokrasi. 

Setiap tahun, grade 5 menyelenggarakan Pendidikan Demokrasi yang memberi mereka kesempatan untuk mengulik demokrasi lebih mendalam. School Presidential Election menjadi langkah nyata yang memperkenalkan anak-anak dengan sistem demokrasi secara sederhana.

Permulaan Perjalanan Memahami Demokrasi

Sejak bulan September, anak-anak mulai dikenalkan dengan konsep demokrasi oleh guru-guru di kelas. Pada tahap yang lebih implementatif, anak-anak mengaplikasikan teori yang sudah dipelajari, mulai dari membentuk partai sampai menentukan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).

Ada empat partai yang terbentuk. Keempatnya menggunakan nama-nama gunung—Rinjani, Kerinci, Merapi, dan Sindoro—yang memunculkan kesan gagah dan tangguh ketika pertama kali mendengarnya.

Suasana School Presidential Election Day, puncak acara Pendidikan Demokrasi
Suasana School Presidential Election Day, puncak acara Pendidikan Demokrasi (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober 2026, keempat pasangan calon (paslon) capres–cawapres tampil di hadapan seluruh warga unit Primary. Mereka memperkenalkan diri dan menyampaikan visi-misi yang mereka angkat. 

Kampanye dan Debat: Menggalang Dukungan lewat Gagasan

Seperti pada proses pemilihan capres–cawapres sungguhan, keempat paslon juga akan melangsungkan kampanye dan debat. Inilah waktunya mereka mempromosikan visi dan misi yang diusung sekaligus menggalang dukungan dari warga sekolah.

Kampanye indoor dilaksanakan dengan berkunjung dari kelas ke kelas. Kehadiran mereka disambut hangat oleh adik-adik kelas dan kakak-kakak grade 6 yang menyimak dengan cermat dan memberi tepuk tangan meriah sebagai bentuk dukungan.

Selasar sekolah yang biasanya sepi juga menjadi lebih ramai saat para paslon melaksanakan kampanye outdoor. Bersama tim sukses (timses) masing-masing, mereka menyusuri setiap lantai sambil menyerukan yel-yel dengan penuh semangat.

Presiden dan Wakil Presiden tahun lalu ikut serta dalam agenda pemilihan ini
Presiden dan Wakil Presiden tahun lalu ikut serta dalam agenda pemilihan ini (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Sementara itu, agenda debat yang diselenggarakan seminggu sebelum pencoblosan menjadi wadah untuk membedah gagasan paslon tentang berbagai fenomena di sekolah. Gagasan itulah yang menjadi landasan bagi murid lain untuk menentukan pilihan. Mereka dituntut untuk berpikir kritis agar tidak sekadar ikut-ikutan ketika menentukan pilihan. 

Menggunakan Hak Pilih di Sesi Pemungutan Suara

Puncak perjalanan Pendidikan Demokrasi (Kamis, 22/10/2026) ditandai dengan pencoblosan capres–cawapres yang akan bertugas selama satu tahun ke depan. Bilik suara, kotak suara, dan photobooth warna-warni telah tersedia di hall lantai 3, tempat pencoblosan digelar.

Menariknya, di sesi pencoblosan ini, panitianya adalah anak-anak grade 5 sendiri. Mereka berbagi tugas untuk menyambut pemilih yang hadir, melayani registrasi, sampai mengawasi kotak suara. Lewat peran yang diemban, anak belajar bertanggung jawab dan kedisiplinan.

Dimulai dari meja registrasi, menggunakan hak pilih di balik bilik suara, memasukkan surat suara ke kotak suara, sampai mencelupkan jari ke tinta ungu, semuanya berlangsung dengan tertib.

Paslon dari Partai Sindoro terpilih sebagai presiden dan wakil presiden baru
Paslon dari Partai Sindoro terpilih sebagai presiden dan wakil presiden baru (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Kelingking yang ujungnya telah berwarna ungu itu mereka pamerkan satu sama lain. Senyum dan tawa pun muncul setelahnya seolah ada perasaan bahagia yang lahir dari praktik pembelajaran demokrasi yang seru dan berkesan.

Siang harinya, tibalah momen penghitungan suara yang mendebarkan, terutama bagi para paslon. Sorak-sorai pun pecah setiap kali surat suara dibuka. Paslon dari Partai Sindoro dinobatkan sebagai presiden dan wakil presiden baru usai meraih kemenangan telak pada School Election Day hari ini.

Upaya Membentuk Warga Negara yang Kritis sejak Dini

Pendidikan Demokrasi, akhirnya, bukan sekadar pembelajaran yang memperkaya wawasan anak-anak. Ada nilai-nilai kehidupan yang mereka petik dari sini, seperti belajar menghargai perbedaan pilihan dan pandangan seseorang. 

Rangkaian kegiatan ini, harapannya, bisa membentuk calon generasi penerus bangsa yang baik serta memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Setiap keputusan yang kita ambil turut menentukan masa depan negara. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis perlu dibentuk sejak dini. []

Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *