Discovering History, Exploring Science: Field Trip Grade 5 GIS 3 Jogja

Yogyakarta – Siswa-siswi grade 5 Primary Global Islamic School 3 Yogyakarta (GIS 3 Jogja) mengawali Bulan September dengan melaksanakan sebuah perjalanan field trip yang menyenangkan dan bermakna.

Dari tema yang diangkat, yaitu “Unlock the Past, Unleash the Future”, sudah terlihat bahwa pada kesempatan kali ini, anak-anak akan diajak menapaki masa lampau sekaligus memaksimalkan potensi untuk masa depan.

Istana Kepresidenan Yogyakarta dan Taman Pintar menjelma menjadi ruang kelas dan para pemandu menjadi guru yang siap memperkaya wawasan anak-anak tentang berbagai hal, mulai dari sejarah sampai teknologi dan seni kriya.

Anak-anak masuk dan mengeksplorasi Zona Paleozoic didampingi seorang pemandu
Anak-anak masuk dan mengeksplorasi Zona Paleozoic didampingi seorang pemandu (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Pagi itu, anak-anak datang dengan seragam batik yang rapi. Mereka mengikuti upacara pembukaan di lapangan futsal pukul 07.30 sebelum kemudian naik ke bus masing-masing, membelah jalanan menuju jantung Kota Yogyakarta.

Bermain sambil Belajar di Taman Pintar

Anak-anak tampak bersemangat dan ceria ketika menginjakkan kaki di Taman Pintar, destinasi pertama hari itu. Mereka memasuki Wahana Oval Kotak, tempat berbagai teknologi dipamerkan dan dapat mereka eksplorasi secara langsung.

Rambut yang berdiri ketika tangan memegang bola Generator Van De Graaf membuat tawa anak-anak pecah di Zona Listrik. Eksplorasi berlanjut ke Zona Cuaca, Iklim, dan Gempa Bumi, tempat anak-anak bisa merasakan sensasi guncangan gempa setelah mereka masuk ke sebuah kotak simulator.

Potret anak-anak ketika sedang mencoba simulator gempa bumi
Potret anak-anak ketika sedang mencoba simulator gempa bumi (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Di Zona Indonesiaku, anak-anak menelusuri budaya-budaya Indonesia, mulai dari wayang, keris, batik, sampai mencoba bermain gamelan. Suara gamelan megah mengalun memenuhi ruangan. Bukan sekadar bermain, lewat cara ini, diharapkan perasaan cinta terhadap budaya lokal bisa tumbuh perlahan.

Keseruan berlanjut di laboratorium IPA, tempat anak-anak melakukan percobaan sains sederhana, tetapi menarik. Mereka meramu soda kue, asam sitrat, dan bahan kimia lain untuk eksperimen botol peniup balon dan lava timbul tenggelam. Seluruh eksperimen tersebut tentu dengan pendampingan pemandu sehingga tetap aman.

Sebagai penutup, anak-anak diberi kesempatan untuk berkreasi menggunakan media gerabah. Di sini, mereka bisa menuangkan kreativitas untuk menciptakan berbagai bentuk yang kemudian bisa mereka bawa pulang.

Anak-anak duduk melingkar, siap berkreasi menggunakan gerabah
Anak-anak duduk melingkar, siap berkreasi menggunakan gerabah (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Istana Kepresidenann Yogyakarta: Mengulik Sejarah Panjang Bangsa Kita

Pukul 13.00, setelah melaksanakan salat zuhur dan mengisi tenaga dengan makan siang, anak-anak melanjutkan petualangan ke Istana Kepresidenan Yogyakarta, sebuah bangunan bergaya kolonial yang menyimpan sejarah panjang bangsa Indonesia, bahkan sejak bangsa ini belum merdeka.

Jarak tempuh yang cukup dekat membuat jalan kaki menjadi pilihan ideal untuk mencapai destinasi kedua. Kehadiran mereka disambut hangat oleh pemandu yang ramah, membuat perasaan letih setelah berjalan di bawah terik mentari siang itu sirna seketika.

Petualangan di Istana Kepresidenan Yogyakarta diawali dengan cerita tentang awal-mula pendirian bangunan tersebut di tahun 1800-an. Tak lupa, mereka diajak mengintip Gedung Agung, tempat menerima tamu agung atau kepala negara.

Anak-anak dan guru berjalan bersama menuju Gedung Agung di Istana Kepresidenan Yogyakarta
Anak-anak dan guru berjalan bersama menuju Gedung Agung di Istana Kepresidenan Yogyakarta (Dokumentasi Tim Humas GIS 3 Jogja)

Anak-anak berjalan tertib mengikuti langkah kaki pemandu, berkeliling dari ruangan ke ruangan, melihat banyak lukisan legendaris karya maestro ternama Indonesia, patung dan benda seni rupa, dan jejak sejarah kepemimpinan presiden Indonesia dari masa ke masa.

Kemegahan sudut-sudut istana serta keelokan koleksinya membuat anak-anak tidak berhenti terpana. Mereka mencermati setiap benda yang menarik perhatian, sesekali meninggalkan catatan di buku kecil masing-masing agar petualangan hari itu senantiasa terekam.

Kegiatan field trip memberi anak kesempatan untuk meraup pengalaman secara langsung di lapangan sehingga mereka memperoleh pemahaman yang optimal. Pengalaman tersebut juga mendorong anak untuk lebih aktif mengamati, bertanya, dan menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan kehidupan sehari-hari. []

 

Ditulis oleh: Tim Humas GIS 3 Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *